Hanya berharap yang terbaik dari semua yang ku alami..
tiba2 ada setetes embun kedamaian jauh di dasar lubuk hatiku...
namun, entah mengapa ada kemarahan ketika mengetahui, ia tak seperti yang kuharapkan..
Yaa Allah, rasa apa ini?? hingga aku semakin terlarut mengikuti arusnya..
Aku tak kuasa melawan arus yang tlah tercipta....
Jumat, 30 April 2010
Entahlah,,,
Label: Tentang Cinta
Posted By Ndha Andini di 22.22 0 komentar
Azzam ku
Label: jihad
Posted By Ndha Andini di 19.50 0 komentar
Saya dan Korupsi
Label: BEM BSI 2010, copas sahabat, Imam, Sospol 2010
Posted By Ndha Andini di 19.39 0 komentar
Jumat, 16 April 2010
Semakin...Semakin dan Semakin ^,^
Semakin memahami… semakin mendalami..
Tapi seolah aku semakin jauh darinya..
Aku tahu tentang itu... sangat tahu…
Mencoba menggali jurang keselamatan…
Dan aku ingin bisa menariknya ke dalam jurang itu..
Semakin tahu… semakin merasa…
Mengetahui sisi baik yang terpancar dari setiap barisan celetuknya..
Semakin membuat hujan itu semakin deras…
Lagi..lagi.. aku pun tahu… tahu bahwa ini adalah batasnya..
Semakin menyadari… semakin ku mengerti…
Bahwa lautan samudera itu semakin dalam…
Semakin menyadari langkah ini kembali gontai
Tak sekuat dulu saat masih menapakkan kaki dalam bara kehidupan..
Semakin merasa.. semakin menerka…
Inikah jawaban dari setiap bait-bait itu??
Sebagai pengokoh langkah yang kurasa akan gontai??
Atau sebagai penguat saat kepalan tangan mulai melemah??
Duhai Rabbi.. sempurna nian SkenarioMu…
Hingga akhirnya aku menyadari,
bahwa ini semua, hanya sampai pada batas itu
tidak lebih..
its all about fact..
Ndha_Andini...
Label: poem
Posted By Ndha Andini di 02.26 0 komentar
ternyata pelangi juga ada di atas kepala kita
Semangat itu.. begitu indah..
Meresap ke dalam lubuk jiwa..
Semangat itu, begitu terasa..
Hingga aku tak ingin melepasnya..
Namun, aku lupa,
bahwa aku harus bersiap kehilangannya..
hingga aku mencoba, bergerak tanpanya…
dan kini, benar saja, semangat itu….
Luka itu , begitu perih..
Namun aku tahu, akan ada senyuman setelahnya..
Goresan itu, begitu dalam maknanya..
Hingga aku tak sanggup hanya menerka sekali saja..
Ah.. tapi kini, semua tak ku rasakan lagi..
Semangat itu, berjalan santai menjauhi…
Meninggalkan sosok diriku…
Yang tengah merindukan kerinduan yang lama ku tinggalan..
Hei… kenapa harus bersedih di tinggal semangat yang lama??
Bukankah semangat baru bisa tercipta??
Lihatlah, saat kau melihat pelangi di atas kepala orang lain..
Maka orang lain melihat pelangi jua di atas kepala mu…
Label: poem, Tentang Cinta
Posted By Ndha Andini di 02.21 0 komentar
Selasa, 13 April 2010
Surat Untuk Indonesia ku..
Teruntuk : Indonesiaku sayang, yang ku harap tak menjadi malang..
Apa kabar Indonesia ku..??
Di posisi ke berapakah negeri ku dalam hal korupsi..??
menurunkah..?? atau justru naik..??
Apa kabar Indonesiaku..??
Masihkah para birokrat tertawa di atas penderitaan rakyat..??
Apa kabar indonesia ku..??
Kemana kah berita Century yang dulu banyak menyita waktu, tenaga dan fikiran pemerintah..??
akankah hilang secara perlahan..?? atau ditutup diam2 tanpa ada yang bertanggung jawab..??
Apa kabar Indonesia ku..??
Bagaimana kondisi warga Sidoarjo, yang jeritnya semakin keras, namun yang berkepentingan, berdiam diri di dalam pesta bermilyar-milyar di dalam gedung kedap suara...
Apa kabar Indonesia ku..??
Masih gemparkah Pacitan, kampung sang RI 1, mengingat CaBup nya dari kalangan artis kontroversi..
Siapkah warga disana menerima AzabNya..??
Apa kabar Indonesia ku..??
Cicak-Cicak yang dulu begitu heroik aksinya..
hingga sekarang tak terdengar 'ckckckckcckck' annya..
lidah nya pun tak selincah dulu, menangkap setiap mangsa..
Apa kabar Indonesia Ku??
pada 6 dekade lebih, wajah negeri ini, semakin tampak semburat kemuramannya..
betapa sulit mengukir senyum di wajahnya kini..
yang terlihat sekarang, justru semakin melukainya..
Apa kabar Indonesia Ku..??
Jerit tangis bocah2 kecil di lampu merah semakin nyaring terdengar…
Kapan tangis itu berubah menjadi jeritan tawa, yang terdengar dari ruang kelas pada sekolah mereka..??
Apa kabar Indonesia Ku..??
Euforia kegembiraan para sarjana muda yang meningkat tiap tahunnya..
Namun keesokan harinya, berubah menjadi tangisan tanpa suara..
Karena pundi2 uang tak berkunjung ke rumah..
Sementara desakan kebutuhan semakin menghamba..
Negeri ku tercinta…
Betapa ingin aku melukis senyum di wajah mu..
Betapa ingin aku menghapus semburat kesedihan di wajah mu yang semakin menua..
Betapa ingin aku menghapus air mata di pipi ibu pertiwi..
Ah..aku tahu, betapa banyak yang memp
unyai keinginan yang sama seperti diatas..
Namun, lebih banyak dari mereka yang justru menorehkan kesedihan di wajahmu ..
Dari aku yang ingin membuat senyum di wajah tua mu itu..
Label: BEM BSI 2010, Sospol 2010
Posted By Ndha Andini di 21.38 0 komentar
Kamis, 08 April 2010
Surat Cinta dari Syaithan...
(Surat ini akan membuat anda benar-benar berfikir)
(Sebenarnya surat ini hampir membuatku gila saat aku membacanya, tapi
aku harus forwardnya kerna catatan kecil dibawahnya)
SURAT DARI SETAN UNTUK MU
Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktiviti harianmu.
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum memulai
santapanmu, juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat
ketempat tidurmu
Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak
merubah
cara hidupmu.
Hai Bodoh, Kamu millikku.
Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama,
dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu .
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah.
Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah.
Dia sudah mencampakkan aku dari surga, dan aku akan tetap
memanfaatkanmu
sepanjang masa untuk mebalaskannya
Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan dia masih memiliki rencana-rencana
untukmu
dihari depan.
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku,
dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka.
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH
Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan
kepada
NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita
jalani
Kita nonton film 'porno' bersama, memaki orang, mencuri, berbohong,
munafik,
makan sekenyang-kenyangya, bergosip, manghakimi orang, menghujam orang
dari
belakang, tidak hormat pada orang tua ,
Tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk.
TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.
Ayuhlah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya.
Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita.
Ini hanya merupakansurat penghargaanku untuk mu.
Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' kerana sudah mengizinkanku
memanfaatkan hampir semua masa hidupmu.
Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.
Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.
Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda.
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana
berbuat
dosa.
Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong,
berjudi,
bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin.
Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya.
Begitulah anak-anak .
Baiklah, aku persilakan kau bergerak sekarang.
Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi.
Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas
dosa-dosamu.
Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit.
Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap
melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh.
Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu.
Hanya saja kau harus menjadi orng tolol yang lebih baik dimata ALLAH.
Catatan : Jika kau benar2 menyayangiku , kau tak akan memberi surat ini dengan sesiapapun"
Label: renungan
Posted By Ndha Andini di 23.12 0 komentar
Mencari Hikmah yang Tersembunyi
Ku dapatkan kabar itu...
entah apa yang ku rasa..
sedih??? gembira?? lega?? bahagia?? kecewa??
semua tercampur jadi satu...
sedih?? ya.. kecewa?? mungkin ya, aku kecewa..
tp bukan karena ku tak bisa menerima kenyataan..
hanya saja, ada satu hal yang sangat disayangkan..
di satu sisi, bangunan indah itu, terlihat 'tak sempurna'..
tapi di sisi lain, bangunan itu sebetulnya keropos, bahkan ada satu bagian yang hilang dari bangunan itu.. mungkin lebih tepatnya, kurang sesuatu...
sesungguhya bangunan itu akan terlihat indah, bahkan sangaaaaaat cantik dan kokoh, jika bagian yang kurang sesuatu itu terlengkapi...
mengapa ia harus mengisi kekurangan itu dengan sesuatu yang belum lengkap??
atau inikah Skenario dari Sang Sutradara yang kelak menjadikan sesuatu yang kurang itu, kan indah pada waktunya..
atau bisa jadi, ini adalah sebuah ladang dari pundi-pundi pahala untuknya kelak...
batin ini bergejolak, kenapa aku harus sedih dengan ini semua??
bukankah ini sudah Alur hidup nya dari NYA??
tapi, sisi batinku satunya lagi berkata..
ini memang jalan hidupnya, tapi.. mengapa ia begitu 'rela' dengan ini semua??
pasrah bukan berarti berdiam diri menerima segala ketetapanNya tanpa ada ikhtir nyata..
lalu, aku merasa gembira..
ya, aku gembira,, sangat gembira..
lega?? ya aku sangat lega, bahkan teramat lega..
bahagia?? sangaaaaaaaaat bahagia...
karena bangunan itu terbangun sudah...
ahh.. ya sudahlah,,, toh, semua itu sudah terjadi..
semoga saja apa yang tlah dilaluinya, tetap dalam jalur yang tlah DIA sediakan untuk mereka...
Label: renungan
Posted By Ndha Andini di 21.05 0 komentar
Minggu, 07 Maret 2010
Riya'
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIM
Arriya’ Berasal dari kata Raa’ yang bermakna memperlihatkan.Sedangkan yang dimaksud dengan Riya’ adalah memperlihatkan(memperbagus)suatu amalan ibadah tertentu seperti sholat,shaum(puasa),atau lainnya dengan tujuan agar mendapat perhatian & pujian manusia.Rosulullah Saw Bersabda : ”sesungguhnya yg paling ditakutkan dari apa yg saya takutkan menimpa kalian adalah Asy Syirkul Ashghar(syirik kecil),maka para sahabat bertanya,apa yg dimaksud dengan Asy syirkul Ashghor ? Beliau Rosulullah Saw menjawab:”Ar Riya’.”(HR.Riwayat Ahmad dari sahabat Mahmud bin Labid).
Dari Abu Hurairoh bahwa telah berkata seorang penduduk Syam yg bernama natil Kepadanya,”Wahai Syeikh ceritakan pada kami suatu Hadist yg Engkau dengar dari Rosululloh Saw.”Abu Hurairoh menjawab,” Baiklah,Aku telah mendengar Rosululloh Saw Bersabda”Sesungguhnya orang yg pertama kali di datangkan pada hari Kiamat adalah seorang laki-laki yg mati Syahid & dia diberitahukan berbagai kenikmatannya sehingga ia pun mengetahuinya.Kemudian orang itu ditanya,”Apa yg telah engkau lakukan di dunia? Orang itu menjawab,”Aku telah berperang di jalan-Mu sehingga aku mati Syahid.”Dikatakan kepadanya,”Engkau berbohong ,sesungguhnya engkau berperang agar engkau dikatakan seorang pemberani dan (gelar)itu pun sudah engkau dapatkan.’ Kemudian Allah memerintahkan agar wajah orang itu diseret & dilemparkan ke Neraka.
Kemudian di datangkan lagi seorang pembaca Al-Qur’an & dia diberitahukan berbagai kenikmatan maka dia pun mengetahuinya.Dikatakan Kepadanya,”Apa yg engkau lakukan di diunia?” Orang itu menjawab,aku telah mempelajari Ilmu & mengajarinya & aku membaca Al-Qur’an karena ENGKAU,” Maka dikatakan kepadanya ,”engkau berbohong,sesungguhnya engkau mempelajari Ilmu agar engkau dikatakan orang alim & engkau membaca Al-Qur’an agar engkau dikatakan seorang pembaca Al-Qur’an & engkau telah mendapatkan(gelar i)itu.Kemudian Allah memerintahkan agar wajah orang itu diseret & dilemparkan ke dalam Neraka .
Kemudian di datangkan lagi seorang yg Allah berikan kepadanya kelapangan(harta)dan ia menginfakan seluruh hartanya itu & dia diberitahukan berbagai kenikmatan & ia pun mengetahuinya.Dikatakan kepadanya,” Apa yg engkau lakukan di Dunia?” Orang itu menjawab,” Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yg Engkau sukai untuk berinfak di dalamnya kecuali aku telah menginfakan didalamnya karena Engkau.” Maka dikatakan kepadanya,”engkau berbohong, sesungguhnya engkau melakukan itu agar engkau disebut sebagai seorang dermawan & engkau telah mendapatkan( gelar) itu.Kemudian orang itu diperintahkan agar wajahnya diseret & dilemparkan ke dalam Neraka.”(HR.Muslim)
Riya bisa muncul didalam diri seorang pada saat setelah atau sebelum suatu ibadah selesai dilakukan.Imam Ghozali mengatakan Bahwa apabila di dalam diri seseorang yg telah selesai melakukan suatu ibadah muncul kebahagian tanpa berkeinginan memperlihatkannya kepada orang lain maka hal ini tidaklah merusak amalnya,Karena ibadah yg telah dilakukannya telah selesai & keikhlasan terhadap ibadah itu pun sudah selesai & tidaklah ia menjadi rusak dengan sesuatu yg terjadi setelahnya apalagi apa bila ia tidak bersusah payah untuk memperlihatkannya atau membicarakannya.
Sebagaimana Hadist Rosulullah Saw dari Abu Musa berkata: “Pernah datang seorang laki-laki kepada Rosulullah Saw dan mengatakan,”Wahai Rosulullah Bagaimana pendapatmu tentang orang yg berperang dengan gagah berani,orang yang berperang karena fanatisme dan orang yg berperang karena Riya’ Maka mana yg termasuk dalam jalan Allah ? Maka Beliau Saw Bersabda,” siapa yg berperang meninggikan Asma Allah Maka dialah yang berada dijalan Allah.
Ikhwah fillah… Perlu diketahui Bahwa segala amalan itu tergantung pada niatnya.Bila suatu amalan itu di niatkan Ikhlas karena Allah swt maka maka amalan itu akan diterima oleh Allah swt,Begitupun sebaliknya .”Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya,dan sesungguhnya amalan seseorang itu akan dibalas sesuai dengan apa yg ia niatkan.(Muttafakun A’laihi)Ibadah merupakan hak Allah Swt yg bersifat mutlak.Bahwa ibadah itu murni untuk Allah swt ,tidak boleh dicampuri oleh niatan yg lain selain untukn-Nya,sebagai mana Firman Allah dalam QS Al Bayyinah; 5 “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah,dengan Ikhlas menaati-Nya semata mata karena(menjalankan)agama,dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat;dan demikian itu agama yg lurus(benar).
Posted By Ndha Andini di 06.37 2 komentar
Minggu, 07 Februari 2010
Karya seorang sahabat FB.. ^___^ (Akh Imam)
Kini tepat detik detik menjelang hari yang di tunggu oleh kaula muda, hari yang biasa di sebut dengan hari puncaknya kasih sayang, hari dimana kasih sayang bertebaran disana-sini, hari dimana kesuka citaan menguak menjadi penuh kasih., ya hari itu biasa disebut hari valentine.
Di mana –mana kini banyak sekali muda mudi yang mulai menyusun jadwal acara mereka dari jauh jauh hari, agar hari yang tepat pada tanggal 14 februari itu mampu mereka kosongkan, agar hari tersebut mampu mereka sediakan untuk yang mereka sayangi.pemandangan yang biasa kini jika kita melihat sekeliling di department store di berbagai tempat, mereka menyajikan berbagai suguhan yang menarik. Mulai dari coklat, baju, cake, dan masih beragam lainnya. Disana pasti tertulis. “happy valentine”. Dari mulai harga Rp.5000 s/d Rp 250,000.
Jika runut sejarah mungkin teman-teman pasti sudah sangat mengetahuinya, karena mungkin kami sudah seringkali mencoba membeberkan tentang peranan sejarah di hari valentine ini, namun sepertinya itu sedikit banyak tidak berpengaruh, kini mungkin kondisi ironis yang sukar terjadi di kalangan pemuda, yaitu tidak teintegrasinya antara otak dan hati,”
“pemuda kini cenderung mudah terfragmentasi dan bersikap lebih reaksonis dalam kesehariannya serta cenderung memiliki dunia sendiri” . kondisi ini sungguh kronis, padahal seharusnya peran mereka lah yan seharusnya menjadi agent of change (agen prubahan).
Benar sekali, bahwasanya valentine ini memang identik dengan hari “penuh kasih sayang”, saya pun mengetahuinya, namun dalam benak saya dan rekan juga pasti pernah bertanya “seandainya setiap hari merupakan hari valentine”.??, namun kini saya akan mencoba membahas dengan pemikiran seorang pemuda yang pernah terjerembab sebelumnya, dan kini perlahan lahan sadar.
Seandainya mungkin tanggal 14 februari nanti, para pemuda pemudi berlomba lomba memberi barang terbaiknya kepada pasangan nya, dengan berbagai macam benda dan dengan berbagai harga,dari yang penuh kasih sayang untuk memberikannya, dan mungkin ada yang memberikannya karena memaksakan, padahal saat itu mereka tidak memiliki uang, terlepas dari itu semua, sepertinya ini mampu menjadi trend di anak cucu kita nanti jika kita tidak cepat-cepat merubahnya dan memperbaiki dalam sebuah wadah baru.
Mungkin memang harga yang harus di bayar untuk membeli barang tersebut tidak bisa menggambarkan rasa kasih sayang dan rasa cinta yang mereka miliki kepada pasangannya, namun, pernah terlintas di benak saya,” seandainya para muda-mudi ini mampu mengundurkan niatnya dan mampu mengarahkannya ke hal yang lebih positif seperti membeli buku, bahkan meng-infaq annya..” subhanallah niscaya efeknya akan lebiih DAHSYAT.
Terdapat 4 faktor yang menyebabkan ini terjadi, dan sepertinya sikap yang saya ceritakan diatas merupakan sikap labilitas dari seorang pemuda yang cenderung memiliki dunia sendiri dan cenderung acuh tak acuh, berikut 4 faktor yang di simpulkan oleh rekan saya ”arini windy”:
a). Konsistensi dari orang itu sendiri akan perilaku dan tingkah laku yang dia lakukan di sekitar lingkungan ,dan lingkungan jg yg akan menilai apakah layak untuk di sebut sebagai “pribadi yang sosial”.
b). Moral dari diri orang tersebut yang akan menentukan juga apa jalur yg akan di tempuh tuk merasakan suatu keadaan yang merasa dia “nyaman ”,yaitu mengabungkan diri diantara lingkungan sosial & komersial . yg di maksud dengan lingkungan komersial adalah : suatu lingkungan /tempat terjadinya ekonomi pasif yang berada di lingkup kecil (RT/RW) .
c). Materi adalah salah satu yang sangat berpengaruh di masa-masa sekarang ini ,dimana orang rela menjual harga diri & kehormatan demi selembar kertas,setumpuk recehan .itulah ketertarikan etika kita diuji untuk bisa menentukan posisi kita untuk mengambil langkah/sikap .keberanian itu akan muncul kalau aspek ekonomi orang tersebut cukup ,sebaliknya apabila orang tersebut minim dalam financial ,maka akan sulit untuk bangkit dari krisis kepercayaan diri tuk menjurus hal-hal yang negatife ( menghalalkan semua usaha ).
d). Religi/Keagamaan adalah salah satu penopang keimanan orang agar bisa untuk membedakan mana yang boleh dan mana yang di larang .sikap ,sifat dan tabiat orang bisa di bentengi dengan kerohanian yang kita dapat dari pengetahuan umum atau yang kita dapat dari lingkungan sekitar. Aspek yang satu ini seperti sudah di tinggalkan oleh orang-orang yang akan haus duniawi,contohnya jaman sekarang ini banyak korupsi di depan kita ,kita untuk bertindak saja harus ada mekanisme yang sangat ribet/terlalu banyak aturan yg akhirnya menghilang begitu saja kasusnya ,itulah kerohanian kita patut untuk di pertanyakan.
BEST REGARDS to arini windy.!!
kini saya memiliki ide yang bersifat revolusioner, bagaimana jika esok tanggal 14 februari kita namakan hari infaq sedunia..!!! kalian sisihkan uang kalian untuk memberikan coklat dan untuk memberi barang-barang valentine lain, namun jangan berikan kepada pasangan kalian, melainkan berikanlah kepada kaum fakir yang membutuhkannya, dan berikan barang tersebut bersama pasangan kalian. Niscaya rasa sayang kalian akan lebih berguna,
“hingga saat nya nanti, mereka yang terlelap akan bangun, mereka terus berteriak akan kondisi stagnan yang sangat menusuk ulu hati mereka, mereka begitu ber ujud. Mereka selalu membanggakan bangsa nya, mereka selalu menjunjjung sikap keberanian dalam berperang dan selalu menjadi pemuda yang melawan arus negative,
bangsa ini masih memiliki matahari terbit di ufuk cita. Maka, setiap dari kita harus menaruh papan bertuliskan harapan di padang kebebasan. Dan pada saat masa yang dijanjikan itu tiba, maka kita akan berada dalam barisan kemenangan. Seperti apa yang dikatakan oleh Anis Matta, “Mereka, pahlawan, lahir dan dibesarkan di negeri ini. Mereka adalah aku, kamu, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Hanya perlu berjanji, untuk merebut takdir kepahlawanannya”.
14 februari 2010. "not for valentine". but " Shodaqoh days".
'semoga berguna.
imam choirul roziqin
terjerumus_fakta@yahoo.com
[depok.kota inspirasi]
Label: copas sahabat, Imam
Posted By Ndha Andini di 21.52 0 komentar
Senin, 01 Februari 2010
Valentine's day menurut pandangan islam..

SEJARAH VALENTINE:
PANDANGAN ISLAM
Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.
Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.
Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.
Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara.Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27)
Perhatikanlah Firman Allah :“…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”.

Label: tsaqofah
Posted By Ndha Andini di 00.25 0 komentar
Valentine dalam kacamata islam
Sejarah Valentine's Day

“Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers.”
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).
Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).
Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!
Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya, yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?.
Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita remaja putra-putri Islam yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain. Padahal Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (Al Isra' : 36).
sumber : http://youngmuslimsindo.blogspot.com/2006/02/sejarah-valentines-day_10.html
Label: tsaqofah
Posted By Ndha Andini di 00.22 0 komentar
Jumat, 22 Januari 2010
Kecantikkan Sejati
Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat suami bertambah kuat jalinan perasaannya. Wajah istri adalah keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan. Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia memiliki istri yang berwajah memikat.
Tapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa fakta-fakta. Dan kedua, bantahan dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Konon, Christina Onassis, mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi, dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.
Kecantikan wajah Christina tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan antara ia dan suami-suaminya tidak pernah kuat.
Kasus ini memberikan ibroh kepada kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya bersifat qalbiyyah!
Bantahan kedua, sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR. bukhari, Muslim)
Hadist di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan suami semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zhahir. Ada yang bersifat bathiniyyah.
Dengan demikian wahai saudariku muslimah, tidak mesti kita harus mempercantik diri dengan alat kosmetik atau dengan menggunakan gaun-gaun aduhai yang akhirnya akan membawa kita pada sikap berlebihan pada hal yang halal bahkan menyebabkan kita menjadi lalai dan meninggalkan segala yang bermanfaat dalam perkara-perkara akhirat, wal ‘iyadzubillah. Namun tidak berarti kita meninggalkan perawatan diri dengan menjaga fitrah manusia, dengan menjaga kebersihan, kesegaran dan keharuman tubuh yang akhirnya melalaikan diri dalam menjaga hak suami. Ada yang lebih berarti dari semua itu, ada yang lebih penting untuk kita lakukan demi mendapatkan cinta suami.
Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri seorang wanita adalah sesuatu pengaruh yang terbit dari dalam jiwa dengan segala kemuliaannya dan mempunyai harga diri, dapat menjaga diri, suci, bersih, dan membuat kehidupan lebih tinggi di atas egonya.
Untuk itulah saudariku muslimah… Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu dengan cinta dan kasih sayang serta tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah seperti jiwamu yang penuh dengan kebaikan, perhatian serta kelembutan. Bukankah kita telah melihat contoh-contoh yang gemilang dari pribadi-pribadi yang kuat dari para shahabiyyah radiyallahu ‘anhunna…?
Janganlah engkau penuhi dirimu dengan ahlak yang selalu sedih dan gelisah, banyak pengaduan dan keluh kesah dan selalu mengancam, karena hal tersebut akan menggelapkan hatimu. Tersenyumlah untuk kehidupan. Seperti kuatnya para shahabiyyah dalam menghadapi kehidupan yang keras dan betapa kuatnya wanita-wanita yang lembut itu mempertahankan agamanya…
Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama. Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang diajarkan Islam, yang diawali dengan sifat keimanan. Sebagaimana firman Allah, (yang artinya) “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” (QS. Al-Hujaraat: 7)
Apabila keimanan telah benar-benar terpatri dalam hati, maka akan tumbuhlah sifat-sifat indah yang menghiasi diri manusia, mulai dari Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur, Terhormat, Berani, Sabar, Lemah Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga Silaturrahim, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang tidak mungkin disebut satu-persatu. Semuanya adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hambanya agar dapat bahagia hidup di dunia dan akhirat.
Wanita benar-benar sangat diuntungkan, karena ia memiliki kesempatan yang lebih besar dalam hal perhiasan jiwa dengan arti yang sesungguhnya, yaitu ketika wanita memiliki sifat-sifat terpuji yang mengangkat derajatnya ke puncak kemuliaan, dan jauh dari segala sesuatu yang dapat menghancurkanya dan menghilangkan rasa malunya….!
Saudariku… jika engkau telah menikah, maka nasihat ini untuk mengingatkanmu agar engkau selalu menampilkan kecantikan dirimu dengan kecantikan sejati yang berasal dari dalam jiwamu, bukan dengan kecantikan sebab yang akan lenyap dengan lenyapnya sebab.
Saudariku… jika saat ini Allah belum mengaruniai engkau jodoh seorang suami yang sholeh, maka persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri yang sholihah dengan memperbaiki diri dari kekurangan yang dimiliki lalu tutuplah ia dengan memunculkan potensi yang engkau miliki untuk mendekatkan dirimu kepada Yang Maha Rahman, mempercantik diri dengan ketakwaan kepada Allah yang dengannya akan tumbuh keimanan dalam hatimu sehingga engkau dapat menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia.
Saudariku… ini adalah sebuah nasihat yang apabila engkau mengambilnya maka tidak ada yang akan diuntungkan melainkan dirimu sendiri.
Sumber : Buletin al-Izzah
Posted By Ndha Andini di 20.26 0 komentar
Ruang Hati Yang Mulai Ternoda

Namun yang paling tahu itu adalah Sang Pemilik hati.
Patutkah?
satu jam saja, telah mampu berkata: kau adalah cinta sejatiku!
Dan sayangnya, satu jam saja itu akan kau pertanggung jawabkan dihadapanNYA kelak
Kenapa?
Label: renungan, Tentang Cinta
Posted By Ndha Andini di 19.31 0 komentar
Kamis, 21 Januari 2010
Menuju Perbaikkan Diri...
Label: milad
Posted By Ndha Andini di 23.18 0 komentar
Persiapan Menuju Kesana.. ^__^
Semoga Allah yang Maha Mengatur Segala Kejadian serta Maha Memudahkan Segala Urusan melindungi hamba-hamba-Nya dari sikap berkecil hati,terutama manakala kepada kita dikaruniakan niat dan keinginan untuk memiliki pasangan hidup. Sebagian kecil dari kisah kehidupan yang terpapar berikut ini, masya Alloh,telah menunjukan kepada kita betapa tidak mudah mengayuh bahtera rumah tangga itu. Tidak cukup hanya diawali dengan keinginan untuk menikah belaka. Karena, ternyata tidak sedikit pasangan yang telah memasuki dunia rumah tangga menemui kenyataan bahwa pergantian hari-harinya telah menjadi pergantian kesusahan yang satu ke kesusahan berikutnya. Pernik-pernik masalah seakan telah menjadi seluruh dinding rumahnya.
Seorang ibu rumah tangga yang mengaku telah 16 tahun berumah tangga serta telah dikaruniai 3 orang putra-putri yang sehat dan cerdas, menumpahkan keluhan mengenai masalah rumah tangganya di rubrik konsultasi sebuah surat kabar. Dari segi materi duniawi, mereka keluarga yang berkecukupan karena keduanya bekerja di kantor.
Akan tetapi, ada ganjalan yang semula diabaikan dari pikiran sang istri. Ia merasakan pernikahannya terasa manis pada hari Sabtu dan Minggu saja, yakni ketika keduanya tidak ngantor, sehingga dapat berkumpul dengan seluruh keluarga. Selebihnya, dari Senin sampai Jumat, terasa hambar. Suaminya berkantor di sebuah gedung pusat perkantoran modern, yang menurut anggapan sang istri, tentulah setiap harinya akan bertemu dengan segala macam wanita, dari yang berbusana minim sampai yang bergaun sebatas tumit. Pemandangan semacam itu akan ditemui sang suami dari Senin hingga Jumat. Sedangkan, sang istri mengaku penampilannya di rumah biasa-biasa saja. Kini ia rasakan tidak lagi seramping dulu. Rata-rata suaminya pergi ke kantor sejak subuh dan pulang malam hari. Artinya, selama 15 jam setiap harinya. Ketika tiba di rumah pun, kegiatan-nya hanya makan malam, lalu pergi tidur. Begitu yang terjadi setiap hari. Suaminya seperti sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk berbincang-bincang dengannya. Kalaupun ia bertanya tentang sesuatu, jawaban yang keluar dari mulut sang suami singkat-singkat saja. Kalau suatu ketika ia bercerita tentang sesuatu, ia tidak tahu apakah didengarkan atau tidak karena suaminya Cuma diam dan acuh tak acuh. Kalaupun mengomentarinya, pastilah kata-kata yang terlontar itu berbau memojokkan sang istri.
Satu hal yang paling ia benci adalah saat tiba hari Minggu malam. Sepulang dari suatu tempat, biasanya suaminya mulai ketus. Bahkan tidak jarang keduanya terlibat lagi dipersoalkan sang suami adalah sikap sang istri yang dinilai cerewet dan suka mengatur. Suaminya mulai bersikap baik lagi kalau tiba Jumat malam. Karena, Sabtu paginya mereka akan berkumpul bersama lagi hingga Minggu petang. Yang lebih repot lagi, ia sering bermimpi bahwa suaminya menyeleweng dengan wanita lain. Sehingga, kalau sang suami lagi tampak terdiam melamun, ia pun langsung teringat akan mimpinya tersebut. Karuan saja dari hari ke hari kian bergumpal kecemasan dan kegelisahan yang tak berujung dan berpangkal.
Itulah gambaran tentang satu sisi getir dari kehidupan berumah tangga, yang bias dialami oleh siapa saja, tanpa terkecuali. Lebih-lebih pada pasangan muda, yang notabene pengalaman berumah tangganya masih sedikit. Tentu cerita nyata ini tidak mengajak siapa pun untuk bersikap pesimistis dan cemas sebelum berbuat. Bagaimanapun pernik-pernik problematika rumah tangga semacam ini bisa juga terjadi menimpa kita. Terutama, kalau ada sesuatu yang tidak sempat kita persiapkan, baik sebelum memasuki gerbang pernikahan maupun setelah menjalani kehidupan berumah tangga. Faktor-faktor apa saja yang perlu kita persiapkan itu? Mudah-mudahan beberapa “resep” ini kalau dicoba diterapkan, bisa membuat perjalanan pernikahan yang kita titi menjadi indah dan menenteramkan kalbu.
Bekal Ilmu
Faktor yang pertama adalah bahwa sebuah rumah tangga akan menjadi kokoh,kuat, dan mantap kalau suami istri sam-sama mencintai ilmu. Rasullulah SAW pernah bersabda, ”Barangsiapa yang menginginkan dunia,(mendapatkannya) harus memakai ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat,(mendapatkannya) harus memakai ilmu. Barangsiapa yang menginginkan dunia dan akhirat (mendapatkannya pun) harus memakai ilmu.”
Artinya, bila ada yang bertanya, mengapa rumah tangga yang dijalaninya terasa berat, banyak kesulitan, dan tidak menemukan kedamaian, jawabannya adalah karena ternyata ilmu tentang berumah tangga yang dimiliki tidak sebanding dengan masalah yang dihadapi. Setiap hari akan selalu bertambah maslah, kebutuhan, maupun peluang munculnya konflik. Semua ini merupakan kenyataan hidup yang tidak akan pernah bisa dipungkiri .Bila pertambahan segala pernik kehidupan ini tidak diimbangi dengan pertambahan ilmu untuk menyiasatinya, maka pastilah sebuah keluarga tidak akan pernah mampu menghadapi hidup ini dengan bai Jangan heran kalau rumah tangga yang seperti ini bagaikan perahu yang kelebihan muatan. Dia akan tampak oleng, miring ke kiri, tak mau melaju denhgan semestinya, bahkan bias-bisa akan tenggelam karam.
Adapun ciri khas yang tampak adalah para penghuni rumah tangga itu selalu sangat mengandalkan emosi di dalam mengatasi setiap masalah yang muncul.
Ciri khas yang tampak dari keluarga yang tidak memiliki ilmu dalam berumah tangga adalah para penghuninya selalu sangat mengandalkan emosi di dalam mengatasi setiap masalah yang muncul . Betapa tidak ! Karena, mereka tidak pernah tahu bagaimana cara menghadapi masalah yang selalu muncul seiring bertambahnya jumlah anggota keluarga. Seorang ayah yang kurang ilmu akan sangat mengandalkan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan yang muncul. Ini dikarenakan semakin hari tuntutan kebutuhan hidup terus meningkat , sehingga potensial akan bertumpuk dalam pikiran , berjalin berkelindan dengan beban stressing mental karena rutinitas kesibukan kantor.Manakala iman tengah menipis, kendati batin pun akan mengendur. Ini mengakibatkan tindakan mencari nafkah untuk mengatasi pertambahan kebutuhan tersebut menjadi kurang terkontrol. Tak ayal , pertimbangan halal haram dan hak bathil pun jadi tertepiskan. Keberkahan atas rezeki yang diperoleh pun praktis terkikis. Ketika rezeki itu telah dinikmati oleh istri dan anak-anak di rumah, maka tidak bisa tidak , ia bukannya membuahkan ketenangan batin, melainkan kegundahgelisahan, yang ujung-ujungnya malah bisa menaikkan kadar emosionalitas sang ayah.
Sementara itu, anak-anak semakin hari semakin beranjak besar. Ketika masih bayi mereka butuh perhatian khusus. Keterbatasan ilmu orang tua, tidak bisa tidak, akan mengakibatkan bayi menjadi teraniaya, baik ketika itu maupun setelah mereka besar kelak. Tidakkah kalau mereka menjadi penyakitan karena orang tua tidak mengetahui cara memperhatikan aspek kesehatan mereka, akan membuat mereka menjadi sengsara dan menderita hidup di dunia? Tidakkah kalau mereka kelak menjadi rendah kadar intelektualitasnya, akan membuatnya tidak memiliki prestasi hidup, sehingga menjadi manusia yang gagal dan tersisihkan? Bukankah kalau kelak mereka menjadi anak-anak nakal, tersesat dari jalan yang benar akan membuat mereka menderita dunia akhirat ? Masih banyak lagi akibat buruk lainnya yang akan menimpa anak-anak karena kita para orang tua tidak memiliki bekal ilmu.
Belum lagi kalau pihak orang tua terlalu mengandalkan emosi dan kekerasan, sehingga praktis segala pendekatan yang kita gunakan hampir bisa dipastikan selalu membuahkan kegagalan dalam memecahkan masalah. Menghadapi anak-anak yang nakal dan enggan menuruti nasihat orang tua, misalnya. Tentulah akan didekati dengan kepala and hati yang panas membara. Menghadapi istri yang terkesan rewel , sok mengatur, dan mulai membosankan , atau sebaliknya, menghadapi suami yang terkesan otoriter , banyak tuntutan , sering telat pulang ke rumah, misalnya. Tentulah semua itu akan membuat rumah menjadi terasa gerah karena darah yang selalu bergolak panas. Na’udzubillah!
Walhasil, sekiranya ada diantara suami-istri yang jarang mendatangi majelis-majelis ilmu, enggan menyisihkan waktu untuk membuka bahan bacaan ataupun berdialog dengan orang yang lebih tahu, hampir dapat dipastikan rumah tangganya akan tidak seimbang, akan selalu dekat dengan kesusahan dan penderitaan batin, tidak arif dalam menyelesaikan aneka masalah, dan bukan mustahil akan berujung pada kegagalan yang sangat menyakitkan dan merugikan. Oleh karena itu, tampaknya kita harus mempersiapkan bekal ilmu ini justru semenjak kita berkeinginan untuk menikah. Atau, kalaupun kita sudah lama berumah tangga , belum terlambat untuk menyadari bahwa ilmu adalah bekal utama yang harus segera digapai. Jangan merasa sayang untuk menyisihkan sebagian dari waktu maupun penghasilan nafkah kita untuk menambah ilmu. Apakah itu untuk membeli buku dan bahan bacaan lainnya yang dibutuhkan, untuk mendatangi majelis-majelis ta’lim yang di dalamnya justru tidak hanya bertaburkan ilmu, tetapi juga rahmat dan pertolongan Allah , mengikuti training, kursus, dan sejenisnya.
Ingat, gagalnya seorang ayah atau ibu dalam menyelesaiakan aneka masalah yang muncul di tengah-tengah keluarga, bukannya karena masalahnya yang berat atau rumit, melainkan lebih dikarenakan lemahnya keterampilan dan sikap kita dalam menyikapi dan menyiasati masalah itu sendiri.
Jangan salahkan siapapun kalau rumah tangga kita dari hari ke hari selalu terasa runyam dan tidak nyaman. Salahkanlah diri sendiri sebagai orang tua yang enggan menjadikan ilmu sebagai bekal utama untuk mengarungi samudera kehidupan yang memang penuh ombak dan badai ini. Ilmu agama adalah utama, tetapi ilmu dunia pun tak kalah pentingnya. Rumah tangga yang tidak dekat dengan ilmu adalah rumah tangga yang akan selalu dekat dengan kesusahan dan kesempitan. Camkanlah!
Gemar Beramal
Ternyata setiap ilmu itu tidak membawa manfaat, kecuali bila sudah mewujud dalam bentuk amal. Rumus kehidupan ini sebenanya sederhana saja, yakni: seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu dari apa yang diinginkan, tetapi dari apa yang bisa ia lakukan. Karenanya, syarat yang kedua bagi tercapainya rumah tangga yang ideal setelah menguasai ilmu adalah gemar mengamalkannya. Hidup ini bagaikan gaung di pegunungan. Apa yang kembali kepada kita tergantung dari apa yang kita bunyikan. Sekiranya menginginkan suatu kebaikan menghampiri kita, maka ia tidak bisa datang hanya dengan cara meminta orang lain berbuat baik. Akan tetapi, terlebih dulu harus melakukan suatu kebaikan kepada orang lain.
Suami yang sibuk menyayangi dan membahagiakan istrinya lahir batin, niscaya akan mendapatkan balasan yang amat mengesankan dari sang istri. Demikian pun kalau istri ingin disayangi dan dibahagiakan suami. Jawabannya hanya satu : barangsiapa bisa memuliakan suaminya dengan ikhlas, Allah pun akan melembutkan hati sang suami untuk menyayanginya dengan penuh keikhlasan pula.
Jangan menuntut sesuatu kepada orang lain, tetapi tuntutlah terlebih dahulu diri kita untuk berbuat suatu kebaikan semaksimal mungkin. Tidakkah Allah Azza wa Jalla telah berfirman,”Barangsiapa yang mengerjakan kebaiakan sebesar dzarrah pun,niscaya ia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya) pula. ?”(Q.S. Az-Zalzalah[99]:7-8 ). Artinya, segalanya tergantung kita. Sesungguhnyalah balasan Allah itu akan sangat dirasakan adilnya mana kala kita menyadari satu hal, yakni bahwa segalanya akan kembali kepada kita, tergantung apa bentuk amal yang dilakukan.
Camkan sekali lagi :bahwa kita tidak akan mendapatkan sesuatu dari apa yang kita inginkan dan harapkan, tetapi kita akan mendapatkan banyak dari apa yang diberikan. Semakin gemar bersedekah, maka insya Allah akan semakin melimpah rezeki hak kita dari -Nya. Semakin senang menolong orang lain, akan semakin banyak pula orang menolong kita. Semakin kita biasakan untuk membahagiakan dan memudahkan urusan orang lain, maka rasakanlah, betapa akan semakin banyak hal-hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan sementara segala urusan kita pun dimudahkan oleh Allah Azza wa Jalla. Hendaknya di mana kita berada harus membuat orang lain merasa diuntungkan dengan kehadiran kita. Setidaknya keberadaan kita jangan sampai merugikan orang lain. Rumah tangga yang memiliki komitmen hidup semacam ini niscaya akan mendapati betapa jaminan Allah itu teramat mengesankan. “ Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Menegtahui.”(Q.S. Al-Baqarah[2]: 158)
Sebaliknya, semakin pelit kepada orang lain, maka hidup ini akan terasa banyak menemukan kesulitan. Semakin senang berlaku aniaya terhadap orang lain, niscaya akan semakin banyak yang menzhalimi kita. Demikian pun, rumah tangga yang banyak menyakiti orang lain, niscaya akan menjadi rumah tangga yang banyak tersakiti pula. Inilah rumus sunatullah yang akan dialami oleh siapapun, sebagaimana pula yang telah ditegaskan oleh-Nya, “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. “(Q.S. Al –An’aam[6]:132)
Jadi,janganlah ingin menjadi suami yang disayangi istri, tetapi jadilah suami yang menyayangi istri. Janganlah ingin dihormati oleh anak-anak atau mertua, namun hormatilah mereka. Nanti toh semuanya akan kembali kepada kita jua. Janganlah ingin diberi sesuatu oleh tetangga, namun berilah mereka. Nanti Allah akan menggerakkan hati mereka untuk mengulurkan tangan bantuannya kepada kita. Walhasil, rumus yang kedua setelah ilmu sebagai bekal utama dalam berumah tangga, adalah hendaknya di mana pun kita berada menjadi orang yang selalu bisa berbuat sesuatu. Itulah amal-amal kebaikan.
Ikhlas
Ternyata sehebat apapun amal-amal kita tidak akan bermanfaat dihadapan Allah, kecuali amal-amal yang dilakukan dengan ikhlas. Orang yang ikhlas adalah orang yang berbuat sesuatu tanpa berharap mendapatkan apa pun ,kecuali ingin disukai oleh Allah. Inilah bekal utama ketiga dalam berumah tangga. Dalam mengarungi kehidupan ini akan banyak didapati aneka masalah. Kita pasti akan menemukan berbagai kesulitan ,kesempitan, dan kesengsaraan lahir batin, kecuali kalau mendapat pertolongan-Nya. Allah tahu persis kebutuhan kita, lebih tahu daripada kita sendiri. Dia tahu persis masalah yang akan menimpa kita , lebih tahu daripada kita sendiri. Karenanya, Allah menjanjikan , “Wa man yattaqillah yaj’allahu makhrajan.” (Q.S. Ath-Thalaaq [65]: 2) Rumah Tangga yang terus-menerus meningkatkan ketaatannya kepada Allah , akan senantiasa dikaruniai oleh-Nya jalan keluar atas segala urusan dan masalah yang dihadapinya. Anak-anak membutuhkan biaya , Allah akan mencukupi mereka karena Dia Dzat yang Mahakaya. Pelacur,perampok, dan orang-orang zhalim saja diberi rezeki,bagaimana mungkin anak-anak kita dilalaikan-Nya? Suami hatinya keras membatu, otoriter, dan suka bertindak kasar, apa sulitnya bagi Allah membolak-balikkan setiap hati, sehingga menjadi berhati lembut,baik, dan bijak.
Masalahnya, adakah keluarga kita layak mendapat jaminan-Nya ataukah tidak? Kuncinya adalah bahwa rumah tangga yang selalu dekat kepada Allah dan sangat menjaga keikhlasan dalam beramal, itulah rumah tangga yang layak memperoleh jaminan pertolongan -Nya. Semakin suatu rumah tangga jarang shalat, enggan bersedekah dan menolong orang lain, malas melakukan amal-amal kebaikan, ditambah lagi berhati busuk, maka semakin letihlah dalam mengelola rumah tangga ini. Rumah seluas apa pun akan tetap terasa sempit kalau hati para penghuninya sempit. Ketika berada di lapangan yang luas , lalu menemukan anjing atau ular, kita toh tidak merasa gentar. Akan tetapi, ketika di kamar mandi , berdua dengan tikus saja bisa jadi masalah.
“Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji. apa yang ada dalam hatimu Allah Maha Mengetahui isi hati”(Q.S. Ali Imran [3]: 154)
Dalam kaca mata ruhiyah,bersatunya seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam satu ikatan pernikahan, adalah berhimpunnya dua hati yang memiliki harapan mulia, yakni membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Demikianlah sesungguhnya yang dikehendaki Allah yang memiliki sifat Rahman dan Rahim, sebagaimana firman-Nya, “Dan diantara bukti-bukti kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapatkan ketenangan hati dan dijadikan-Nya rasa kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kebesaran –Nya bagi orang-orang yang berpikir.”(Q.S. Ar-Ruum [30]: 21)
Namun, dalam sisi lain, ternyata ikatan pernikahan itu berarti juga berhimpunnya dua manusia yang memiliki aneka sisi perbedaan. Demikian pula halnya manakala dikemudian hari hadir anak-anak di tengah-tengah mereka. Jenis kelaminnya saja sudah berbeda, apalagi karakternya, emosinya, keinginannya ,harapannya, sikapnya terhadap sesuatu, dan sebagainya.
Kalaupun sepasang suami istri tampak sering sejalan dalammenyikapi dan melakukan berbagai hal, itu hampir dapat dipastikan karena ada upaya dari masing-masingnya untuk rela saling menahan diri serta saling mengorbankan apa-apa yang potensial bisa memicu perbedaan itu sendiri. Walhasil, lahirlah dalam rumah tangga yang mereka bina perasaan tenteram,lapang hati , dan cinta kasih.
Itulah pula hikmah dari pernikahan itu sendiri, yakni dikaruniai-Nya mereka nikmat sakinah, mawaddah, warahmah. Titik-titik perbedaan itu sendiri, sewaktu-waktu bisa muncul ke permukaan, terutama bila diantara mereka sudah tumbuh keinginan untuk saling memaksakan kehendak dan enggan saling menghargai aspirasi masing-masing. Apalagi dan biasanya kalau semua itu lahir dari karakter dan tingkat emosionalitas masing-masing. Tidak jarang kita temukan rumah tangga yang hari-harinya penuh dengan pertengkaran dan kesalahpahaman , sehingga tidak sedikit berakhir dimeja perceraian.
Inilah justru bagian dari fenomena yang mungkin akan dihadapi oleh setiap pasangan suami istri, sehingga kita butuh bekal yang efektif untuk menyikapi dan menyiasatinya, agar kemungkinan munculnya potensi konflik semacam ini bisa dihilangkan atau setidak-tidaknya diminimalisasi. Apakah bekal yang harus kita miliki itu ? Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla mengaruniai kita ilmu yang bermanfaat serta kesanggupan untuk mengamalkannya dengan tepat.
Bersih Hati
Setiap saat ujian dan aneka masalah bukan tidak mungkin akan datang mendera rumah tangga dengan tiba-tiba. Bagaimana seorang suami atau seorang istri menyikapinya, ternyata tergantung dari satu hal, yakni qalbu ! Terserah kita, apa yang akan kita lakukan dengan masalah itu? Mau dibuat rumit, perumitlah. Nanti kita sendiri yang akan melihat dan merasakan buahnya.Namun, mau dibuat sederhana juga, silakan sederhanakan , nanti kita pun akan melihat dan merasakan buahnya.
Setiap masalah dalam rumah tangga bisa menjadi rumit dan bisa juga menjadi sederhana,tentu bergantung bagaimana kondisi hati kita yang kita miliki, yang akhirnya membuat kita harus memutuskan langkah bagaimana menyikapinya. Padahal,bagi kita kuncinya hanya satu : sesungguhnya tak ada masalah dengan masalah karena yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menyikapi masalah.
Oleh sebab itu, hati yang bersih adalah bekal utama keempat yang harus dimiliki oleh para pelaku rumah tangga, setelah memiliki bekal ilmu , amal,dan keiklasan. Bersih hati,tidak bisa tidak, akan menjadi senjata pamungkas dalam menyiasati serumit dan sesulit apapun masalah yang muncul dalam sebuah keluarga. Adapun buahnya hampir dapat dipastikan adalah rumah tangga yang tenang tenteram, penuh cinta kasih , dan selalu saling mengingatkan dalam hal mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Sedangkan rumah tangga yang di dalamnya banyak disebut nama Allah, banyak dikumandangkan ayat-ayat -Nya, dan mampu menyempurnakan ikhtiar dalam mencari jalan keluar atas setiap masalah,niscaya akan menjadi keluarga yang sangat dekat dengan pertolongan–Nya dan akan menjadi suri tauladan bagi yang lain.
Subhanallah! Ujian dan masalah rumah tangga memang akan datang setiap saat, suka atau tidak suka. Namun,bagi suami dan istri yang berhati bersih ,semua itu akan disikapi sebagai nikmat dari Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena, bagaimanapun dibalik setiap ujian dan masalah itu pasti terkandung hikmah yang luar biasa mengesankan, yang akan semakin meningkatkan, kedewasaan dan kearifan, sekiranya mampu menyikapi segalanya dengan tepat, yang hal ini justru lahir dari hati yang bening dan bersih dari segala noktah-noktah kekotoran hawa nafsu.
Ujian dan persoalan hidup yang menimpa justru benar-benar akan membuat kita semakin merasakan indahnya hidup ini karena yakin bahwa semua itu merupakan perangkat kasih sayang Allah, yang membuat sebuah rumah tangga tampak semakin bermutu. Tidak usah heran, sehebat apapun kesulitan hidup yang menimpa, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam.
Tidak usah heran, sehebat apa pun kesulitan hidup yang menimpa , sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak akan pernah terguncang meski ombak dan badai saling menerjang. Pun laksana karang yang tegak tegar, yang tak akan pernah bergeser saat dihantam gelombang sedahsyat apapun. Sekali-kali tidak akan terbersit rasa putus asa ataupun keluh kesah berkepanjangan. Memang, betapa luar biasa para penghuni rumah tangga yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak akan pernah membuatnya lalai dari bersyukur. Andai pun musibah yang menerjang, ia akan mampu menegndalikan kayuh bahtera dengan tenang. Subhanalloh, sungguh teramat menegesankan. Wallahu a’lam Bisshowab (and).
Posted By Ndha Andini di 22.47 0 komentar